kepulanganku ke jogja

Saat itu tertanggal 17 Januari 2011. tepat pukul 00.00 aku belum tidur. Aku entah bingung yang harus aku lakukan. Saat itu aku sudah menandatangani surat keputusan pengangkatan kepegawaian ku di salah satu perusahaan. Tetapi aku telah sakit dengan semua yang terjadi.


Aku merasa telah dizalimi, hingga malam itu pun kepalaku sangat padat dengan segala beban kantor. Aku bilang pada diriku sendiri aku serasa mau pecah nih kepala. Hingga aku terbaya-bayang dengan kekelakuan binatang-binatang di pabrik itu. Denga sedikit kesalahan yang aku lakukan dan dedikasiku yang tidak gihargai sampai-sampai bangku itu digebrak beserta bukunya. Aku dimarah-marahi seperti kacung. Padahal aku telah meluangkan segala pikiranku selama setahun di pabrik itu.


Kemudian aku teringat juga dengan tingkah laku pegawaiku yang memang tidak punya etika, namanya siapa sampai aku telah lupa.

Oh aku ingat namanya pake huruf R,, tapi sudah lupa di benakku sekarang. Tingkah lakunya seperti berandal, sering terlambat bekerja hingga dia telah menerima surat peringatan SP2 yang tingkatnya sudah di pinggir jurang. Kalo aku turunkan tuh surat peringatan SP 3, sudah habislah takdirnya di pabrik ini. Tetapi aku masih berpikir bahwa memang aku tidak lama lagi di pabrik ini.


Akhirnya aku telah memutuskan untuk menyelesaikan beban ini untuk mengakhiri segalanya. Aku memutuskan untuk resign malam ini.

Memang keadaan ini diperparah dengan kepindahan kepala pabrik yang bernama Pak H, dia itu orang cina yang cerewetnya minta ampun. Dan mintanya banyak banget hingga aku pusing dengan segala permintaannya. Apalagi anak buahnya yang atasanku sendiri Pak I tidak membela anak buahnya sama sekali, hingga aku setiap hari harus meeting layaknya eksekutif muda padahal aku hanya staff biasa yang menjalankan perintah, apalagi umurku baru 19 Tahun. Apa layak hingga otakku diperas dan dimaki-maki padahal aku layak jadi anaknya. Ironis sekali hidupku dengan semua itu.


Tentu semua karyawan dbagian kami agak tidak suka dengan tingkah laku Pak I dan Pak H yang memang keras sekali dengan anak buah. Hingga aku sakit dan tak tahan lagi.

Akhirnya pagi-pagi aku berangkat ke pabrik, padahal tadi malam aku tidur jam 1 dengan balsem aku sampurkan pada leher dan kepalaku yang memang tidak tahan menahan rasa sakit karea tekanan-tekanan ini.

Memang pagi itu aku tidak bersemangat lagi untuk bekerja tetapi aku sudah memutuskan untuk mengundurkan diri dari pabrik. Dan aku tuliskan surat itu seperti ini:



Yth. Personalia

PT Ss tbk

di tempat


Assalamualaikum wr wb


Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Agung Purnomo

Jabatan : Staff Produksi Produksi 1

Menyatakan mengundurkan diri dari bagian terkait dikarenakan tidak berkompetenlagi di bidang tersebut.

Atas perhatian dan bantuannya saya ucapkan terimakasih.


Wassalamualaikum Wr Wb


Sekitar seperti itu lah surat yang aku tulis kepada atasanku yang memang aku tulis dengan sedemikian rupa supaya jalanku dilancarkan.


Perlu diketahui juga bahwa ada seorang atasanku yang belum pernah marah-marah hingga aku sakit hati. Pokoknya beliau top banget sebagai atasanku, sebut saja Pak F. beliau sangat relijius dan baik hati. Sudah seperti bapaku sendiri , banyak hal yang aku dapat dari beliau. Sungguh tidak ada yang sebaik dia , seperti bapak-bapak pada umunya beliau selalu ngemong aku dalam segala urusan kantor. Karena memang beliau lebih berpengalaman dengan indutri manufactur ini.


Oh ya, sebelum aku berangkat tadi pagi, aku telah membeli amplop yang aku persiapkan buat membungkus suratku.

Saat itu memang kantor produksi yang biasa aku menulis surat belum dibuka. Akhirnya aku masuk ke bagian kasir yang memang banyak komputer tidak dipakai. Akhirnya aku masuk kesana. Ada seorang kepala bagian yang sudah datang ,tepatnya jam 6.15 pagi.


Aku meminta izin, “ maaf Pak, saya mau ngeprint sebentar!”

beliau menjawab, “oh silahkan”.


Akhirnya aku memilih komputer yang paling depan yang menghadap ke barat itu, yang tepat di depannya ada printer. Kemudian aku mengetiklah surat itu dengan seksama dan aku rinci sedemikian rupa seperti tadi.

Akhirnya selesai dan aku ambilah satu kertas dibawah meja dan aku print.


Hari ini adalah produksi endplate yang memang mudah diproduksi dan banyak menghasilkan laporan, jadi hari ini cukup aman untuk tidak dimarah-marahi oleh pak I atau Pak H,

aku berkata,”alhamdulillah”.


Kemudian aku pergi kemeja yang tepatnya ada disamping pintu regol tempat memproduksi sideplate disitu duduklah pak I, dan aku serahkan surat yang telah aku bungkus rapi
aku “ pak ini surat dari saya!”.


Kemudian pak I membuka surat itu dan kemudian suratnya setengah di letakkan kemeja, dia bilang “baru diangkat udah mau resign!”.

Memang sih raut mukanya sudah sedikit tersenyum kecut.


Meskipun aku sering dimarahi kayaknya beliau agak tidak rela melepaskanku, karena memang yang aku tangani sangat penting dalam bagian itu.

Dia bilang, “ kenapa mau resign? Kan masalah kemaren sudah ditangani. Sudahlah sabar apa yang harus dilakukan. Pak B, kan emang gitu, tetapi kalo ditangani bersama-sama semua selesai seperti hari ini. Hari ini kamu gak kena omel lagikan ma dia juga?”

aku “iya sih pak, tapi saya sudah capek e pak”.


Pak I berkata,” sudah kamu jalanin dulu saja nanti kalau ada masalah saya bantu semuanya”.

Aku “ gitu ya pak, nanti saya coba sebulan dulu ya pak?kalo saya tidak kuat saya pulang.”


tetapi memang sudah aku rencanakan bulan Maret aku mau pulang ke Jogja buat nglanjutin kuliah aku.


Tetapi akhirnya meeting pun terjadi lagi, aku menjelaskan didepan ruang sidang itu apa yang diproduksi dan tetek bengek yang terjadi tetapi ada ganjalan dan aku dimarah-marahi sama Pak B lagi, tetapi Pak I tidak membantuku untuk soal ini. Patah semangatku lagi untuk semua ini, aku kemudian pergi ke ruang dies . Disitu banyak sekali tempat cetakan untuk produksi dan memang ada masalah dengan cetakan yang hilang entah kemana. Alhasil aku pusing banget dengan masalah ini, seperti mikir negara saja. Sungguh sakit sekali hati ini sudah capek badan capek pikiran sakit hati pula. Mungkin emang jakarta lebih kejam dari ibu tiri itu benar.


Dan di situlah ada pojok rak, sampai aku tidak kuat menahan dan aku benturkan kepalaku di papan nama rak, seperti itulah kepalaku karena tidak kuat menahan pikiran. Jalan seprti buntu. Akhirnya aku telfon ibuku dengan nada setengah sakit , “ma, aku kayaknya sudah gak kuat lagi. Aku mau pulang ke jogja. Sudah ga kuat ma!”

mamku, “ya sudahlah kalo ga kuat pulang saja gak papa.”.


Alhasil aku ingin berlari dengan semua ini, dan hari itu sudah diakhiri dengan caci maki lagi. Dan tepatnya jam 16.00 aku pulang ke kosku dan aku langsung ambil keputusan untuk mengajukan kembali surat pengunduran diriku yang sudah aku pikir matang-matang lagi.


Bersambung...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Memaafkan

kalut

Kuliah di National Tsing Hua University, Taiwan