Belajar Memaafkan

Tentu pada hari Jumat tak lupa para ikhwan dan akhwat berlomba-lomba memakai baju koko putih dan jilbab putih bagi akhwat. Sekedar menghormati datangnya hari suci Jumat yang sennatiasa kita bertasbih kepada Allah.

Memang pada hari itu Jumat yang pagi, terdapat syuro pagi PU yang cukup menyemangatkan. Tepatnya jam 6 pagi syuro harus di mulai. Tetapi seperti biasa saya datang jam 06.10, dan memang belum semua anggota PU telah hadir.

Kemudian aku duduk, dan diberi amanah koordinator untuk tilawah. Cukup sinkron antara tilawah dan baju koko putih saya. Dulu saya tidak pernah membayangkan kuliah dengan baju koko tetapi kini menjadi biasa. Memang syuro selesai jam 07.00, dan saya izin terlebih dahulu untuk kuliah.
Keadaan kelas telah penuh dengan temen sekelasku.

Akhirnya aku duduk di belakang dekat ac yang dingin sekali.

Kebanyakan hal yang dilakukan mahasiswa ketika duduk di belakang adalah melamun dan berpikir muti. Dan datanglah pak dosen dengan koko putihnya juga. Hari itu memang terasa lebih suci dengan koko putih semua orang.

Aku memang bukan seoran alimin yang sering di perolokkan temanku. Mereka berkata, "anak haska tu harusnya sopan-sopan ga kayak kamu!". Tentu hal itu sangat berkonotasi luas sekali, bukan hanya pada kesopanan atitut tapi mereka menuntut seorang agamawan haruslah memiliki kesempurnaan jasmani, tingkah laku dan batin bukan sekedar koko putih yang aku pakai.

Akhirnya aku termenung, kenapa aku masih seperti ini juga. Tidak bisa dipungkiri masuknya saya ke haska dalam tanda kutip terjerumus . Tapi syukurnya terjerumus pada orang-orang yang belajar saleh. Kalau saya ditanya apakah saya bisa membaca Al Quran secara fasih, saya jawab tidak. Apa kamu bisa mengerti ilmu-ilmu agama islam secara luas tentu tidak.

Hingga di kursi paling belakang itu, aku masih memikirkan apakah aku telah pantas memakai baju putih ini. Padahal aku yang masih memiliki hati yang kotor ini menjadi pembohongan publik. Banyak sekali dendam-dendam yang aku pendam, banyak sekaliorang yang belum aku maafkan.

Hingga seperti suatu sindiran kedalam diri saya sendiri kalau-kalau keimananku hanyakedok saja tanpa dengan kelangsungan hati.
Aku pun merasa termenung hari itu, serasa sendiri dan kurang bersosialisasi. Mungkin hari itu Allah menyuruh aku untuk anyak instropeksi dan bukan hanya gurauan. Tentu dengan hati yang besar dengan keinginan yang besar aku harus memaafkan orang lain.

Membiarkan semua berjalan sesuai alur. Menjadikan suatu ukhuwah kembali terjalin, menghilangkan rasa dengki menghilangkan rasa malu.

"Tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri". (Hr. Bukhari)

Komentar

  1. Assalamualaikum.
    Tulisan yan bagus.
    Terus menulis dan di update, ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Walaikum salam akh ayip. iya akh ini baru menuju ke artikel2 yang lebih bermanfaat. InsyaAllah terus belajar kayak akh ayip.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

kalut

Kuliah di National Tsing Hua University, Taiwan