wajah itu gelisah

Sedikit bercerita setelah letihnya di hari Jumat. Sedikit kecapekkan di minggu ini. Hingga aku harus menuju Masjid sebelum sholat Jumat, lain seperti biasanya.

Saat menghela nafas, dan memandang seisi masjid. Banyaklah yang melingkar layaknya sinaran. Dan ada seseorang yang bercahaya, tetapi dahinya sedikit kerut.

Matanya sedikit gelisah dan tidak berkonsentrasi terhadap mata-mata adiknya. Suungguh tampak sedikit kelelahan hati, tapi tetap melaju. Duduknya agak tidak nyaman, hatinya sedikit bimbang hingga matanya sayup redup.

Melihatnya sungguh haru, mungkin tak seperti itulah aku. Aku yang sedikit sok sibuk tak bisa memanage jadwal. Hinggga perjuangannya berbeda dengan ku.

Melihat sejumlah amanah yang menarik pundaknya, sejumlah amanah yang memukul pipinya hingga membiru. Terlihat helai-heali bulu yang tak terawat karena kesibukan.

Matanya yang cukup sayup membuat haru lagi. Sehingga adiknya menjadi sedikit buyar.

Berhenti pada dirinya, ku melihat wajah seorang lagi di selatan masjid. Sebenarnya dua, tapi dahinya saling berjauhan. Tampak juga sejumlah amanah yang digendongnya, sedikit kecut keringat yang mengalir menandakann perjuangan. Dunia mereka cukup sulit, karena bersikap lebih idealistis. Terasa nyaman memang.

Mungkin salah satunya terkoneksi antara bapak dan anak. Mengkhawatirkan sejumlah amanah, menerima sejumlah amanah dan mungkin banyak amanah.
Kadang aku berteriak keras... "letakkan semua amanah itu, meskipun Allah maha Kaya, tetapi kamu seperti cangkir yang telah menumpahkan banyak air ketika dituang dari teko"

Meskipun begitu, harus tetap bangga, heran, salut serta iba. Karena wajahnya tetap bersinar-sinar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Memaafkan

kalut

Kuliah di National Tsing Hua University, Taiwan