Ibu, Aku ingin menikah
Ibu, Aku ingin menikah
oleh Agung Purnomo
Bismillah.
Tulisan ini hanya sebagai pelentur pikiran yang seyogyanya otak ini sedang dipaksa untuk mengejar ketertinggalan bahasa untuk melengkapi amanah kepada negara.
Tulisan ini insyaAllah adalah sebuah manifestasi pandangan, penglihatan, diskusi, dan proses panjang selama satu tahun ini memaknai sebuah keinginan menikah.
Tulisan ini jauh dari benar dan hanya termotivasi untuk menyampaikan hal baik dari sisi sendiri.
Menilik dua tahun lalu, dengan geregetnya pengajian ustad Salim Afillah, Ustad Cahyadi, Ustad Fauzil Adhim yang begitu menggugah naga dalam hati untuk menikah. Sebelumnya, bertargetan ingin membina karir dan merencanakan menikah antara umur 28 hingga 30 tahun.
Sebagai anak kecil yang dididik di lingkungan konvensional, seorang pemuda dihadapkan pada fenomena menjadi hebat dulu hingga mapan. Orang tua senantiasa memotivasiku untuk membuat rumah dahulu, secara tidak sadar, keinginan beliau menjadi target yang berjejer di paling depan. Bukan karena tanpa sebab, bukan karena ingin menjadi hebat punya rumah, tentu hal ini karena kami (aku dan ibu) masih hidup di kotrakan selama lima belas tahun ini. Ada cita-cita kami untuk mendirikan rumah sederhana kami sendiri.
Setibanya aku ujian yudisium, gereget untuk mendapatkan pekerjaan sangat besar. Beruntungnya bisa diterima bekerja di UII. Entah bagaimana, bekerja di UII sungguh berkah, hingga bisa merealisasikan pondasi, dinding, dan atap rumah kami. Tentu jauh dari lantai berkeramik dan dinding dicat. Alhamdulillah sudah bisa ditempati. Bukan berarti, bisa membangun bukan karena dari semua gaji UII, ada saja kerjasama keluarga yang besar dalam mewujudkan rumah sederhana itu. Tetapi, bekerja di UII memberikan rasa berkah dengan cukupnya gaji untuk mewujudkan cita-cita kami.
Ah tetapi, selepas perjuangan setahun ini, memang terasa dahsyat dalam membangun rumah. Bukan hal yang ringan dan biasa-biasa saja. Sungguh, besar karunia-Nya yang dikirimkan dalam proses pembuatan rumah ini. Keluarga memang paling hebatnya dalam menyiksa diri untuk membahagiakanku, terutama mewujudkan keinginan kami. Harta, tenaga, waktu, dan kesehatan senantiasa tak dihitung-hitung.
Alhasil, target mewujudkan rumah, aku anggap selesai. Alhamdulillah. Targetan berhenti pada berdirinya saja, bukan pada finishing.
Kembali lagi pada ceramah-ceramah ustadz yang menggugah hati. Tentang cerita menikah muda dan mudahnya. Tentu menjadi motivasi besarku. Tentang sebuah teori untuk berjuang bersama. Tentang nikmatnya menjaga kesucian diri. Tentang pacaran setelah menikah.
Tetapi, semua tidak seideal itu.
Seperti foto-foto pernikahan yang berseliweran di dinding facebook. Yang terlihat hanya sebatas kebaikan saja. Yang terlihat hanya tawa dan baju bagus saja. Ditambah dekor merah muda atau pun emas bercampur perak. Yang terlihat seperti teori itu, menikah membahagiakan.
Tetapi, ada cerita di balik semua itu.
Jika menjadi ahli hitung, dengan sarjana yang mendapatkan kerja lima juta rupiah, ini nilai ideal PNS dan PT besar, dalam waktu dua tahun, didapatkan akumulasi seratus dua puluh juta. Itu ideal sekali. Kalau gaji guru, karyawan muda, yang bisa menabung satu juta setiap bulan, mendapatkan tabungan dalam dua tahun sebesar 24 juta. Itu juga ideal sekali. Kalau dari pandangan penulis, dapat menabung nominal tersebut, orang tersebut benar-benar dalam naungan sabar yang hebat. Dirangkum menjadi inti, gaji karyawan muda sejatinya jauh dari kelayakan menyelenggarakan pesta pernikahan.
Dihubungkan dengan cerita pernikahan seseorang yang kutemui. Diusia mudanya, malah ada, menyebut bahwa diterima menikah karena orangtuanya PNS. Kemudian, sungguh menjadi penasaran sekali, dengan teman-teman yang sudah menikah saat masih berkuliah. Kok bisa?
Sesedikitnya pernikahan pasti membutuhkan mahar. Sebagai mahasiswa yang dulu kategori biasa, tentu untuk membeli emas 5 gram menjadi awang-awang saja.
Kemudian, saking penasarannya dengan pernikahan muda, memang aku cenderung kritis dan bertanya secara dalam, aku bertanya pada beberapa orang yang menikah muda, mereka menjawab, tentu, peran besar orang tua menjadi poin utama.
Baru-baru ini, seorang kolega bercerita, keponakannya akan menikah tiba-tiba (sudah bekerja di industri), keluarganya menjadi gaduh untuk mempersiapkannya. Tentu, ini menjadi membuka hati kami terkait peran besar keluarga meski kami sudah bekerja.
Tetapi, meski belum menemui sendiri, dan bercerita langsung dengan orang terkait yag ideal sekali, masih mendengar cerita ini dari teman, memang, ada pula yang membangun pernikahannya dengan keringat sendiri dengan menabung lebih dari dua tahun.
Bukan rahasia, jika bertanya dengan teman yang baru menikah, mereka menyampaikan telah mengeluarkan melebihi 30 juta rupiah. Meski aku bertanya-tanya, apakah memang pergaulan kami terlalu tinggi, belum menemukan teman seperjuangan yang menikah dengan begitu sederhananya.
Dari puzle-puzle ini, kemudian diciutkan menjadi sebuah hal penting yang tidak terelakkan bahwa menikah adalah proses yang akan sangat memerlukan kerja sama dengan orang tua.
Kembali pada judul tulisan ini, ibu aku ingin menikah.Sudah pasti bahwa setiap pembaca yang wajar pasti ingin menikah juga. Hanya saja, penulis begitu beraninya menulis ini, dan teman-teman lebih baik dari penulis, untuk menjaga hasratnya tetap dalam hati.
Keinginan menikah ini membuat lama kami memandangi ibu kami yang sedang terlelap tidur. Sepertinya kelelahan mendampingi anak ini yang masih berjuang.
Sudah pasti, penulis sudah menyampaikan keinginan untuk menikah.
Sudah pasti, penulis tidak ingin menundanya.
Tetapi, masing-masing dari kita memiliki kondisi sendiri. Tak elok jika memaksa orang tua untuk menikahkan kita, sedang kita berdiri saja belum mampu.
Usia-usia renta, kelelahan hidupnya, sepertinya tidak pantas untuk diminta-minta menikahkan kita. Bukan untuk tidak taat dengan saran ustadz yang segera meminta kami segera menikah. Melihat kelelahan ibu kami, rasanya tidak mampu untuk egois.
Sudah pasti, yang perlu diperbaiki adalah proses menjadi pribadi sendiri. Menaikkan kualitas kita untuk diterima menjadi menantu dan suami. Menghindari hilangnya keberkahan menikah dengan terburu-buru.
Mengikuti jalan-jalan hebat untuk menabung mandiri untuk menikah rasanya hebat sekali. Pertanyaan tentang kenapa masih sendiri, menjadi ringan sekali, jika dibandingkan dengan perjuangan hebat ini.
Sudah pasti, jika sudah dirasa cukup, pasti kita dinikahkan.
Rasa-rasa menyesal yang menggelayut akhir-akhir ini adalah bayang-bayang bahwa dulu terlalu banyak main dan melakukan hal yang tidak bermanfaat. Sungguh, apa yang terjadi pada kita adalah karena kita sendiri. Sedang rahmat itu datangnya dari Allah.
Semangat memperbaiki diri.
Semangat menenmpa diri.
Semangat menjaga diri.
Semangat hebat.
Bantul, 17 Desember 2017
"Sabar untuk menikah"
Komentar
Posting Komentar