Taiwan: Tentang Pendidikan dan Seorang Suami

Sejenak ingin menulis untuk menjernihkan kembali apa yang telah diisi. Tulisan ini dirasa perlu untuk menjawab banyak pertanyaan sama. Tulisan tentang bagaimana negara Taiwan dan bagaimana pendidikannya saya rasa sudah biasa. Sekali kita search di youtube bagaimana cara berkuliah di Taiwan, ribuan jawaban keluar dengan cenderung isi yang sama. Hal ini tidak bisa dipungkiri karena ribuan warga Indonesia sedang berkuliah di Taiwan.

Sistem komparasi dengan menjadi mahasiswa di negara lain tentu akan menariik kesimpulan bahwa berkuliah di Taiwan itu biasa saja. Pun, tahun ini aku adalah satu-satunya awardee LPDP yang memilih Taiwan sebagai negara tujuan.

Satu tahun yang lalu, diskusi dengan istri tentang negara tujuan studi sangat menarik. Pada dasarnya, kami memilih negara Malaysia sebagai tujuan berkuliah, dengan alasan dekat dengan Indonesia tentunya. Selain hal tersebut, kemampuan Bahasa Inggris kami yang tergolong spesial, sulit untuk menjangkau IELTS 6.5 pada masanya. Pada dasarnya kami telah mengantongi LOA dari Universiti Sains Malaysia.

Diskusi tetap berjalan hingga didapatkan sebuah klausul bahwa berpindah ke negara yang lebih maju dengan prasyarat IELTS yang tidak terlalu tinggi tidak salah diperjuangkan. Alhasil, dipilihlah negara Jepang, Korea, atau Cina. Yonsei University sebagai kandidat terkuat. Akan tetapi, waktu pendaftaran di negara tersebut juga tidak cukup memadai untuk berpindah negara.

Tetiba, ada kawan yang sudah berkuliah di Taiwan dan menjelaskan mudahnya mendapatkan VISA Taiwan hanya dalam waktu tiga hari. Dengan sigap, ada satu universitas yang cukup relevan dari segi waktu pendaftaran, yaitu National Tsing Hua University. Dengan waktu yang tak kalah kedodoran, deadline kementerian dan deadline universitas di hari yang sama. Dengan keepasrahan, saya dan istri bersepakat untuk memperjuangkan. Kemudian, diskusi pun berlanjut dengan dosen akademik di UNY terkait rencana kepindahan negara dan universitas. Beliau dengan senang hati membantu memberikan rekomendasi.

Di sisi lain, kami sedang berjuang mengarungi beratnya masa-masa awal pernikahan. Keinginan berdua untuk ke luar negeri menjadi cukup sulit, karena harus menyiapkan deposit sebanyak lima puluh juta rupiah. Hal ini tentu karena LPDP tidak menanggung biaya hidup keluarga untuk mahasiswa master. Tetapi, kondisi ini dapat ditanggulangi dengan menabung uang beasiswa untuk dapat mengajak istri setahun kemudian.

Akan tetapi, Allah punya rencana lain. Setelah enam bulan menikah, Allah menganugrahi istri untuk mengandung. Pada awalnya, sudah sedikit pesimis, karena biasanya, masa enam bulan hingga setahun menikah adalah masa penentuan kesuburan pasangan. Beberapa artikel mengungkapkan bahwa setahun pernikahan adalah masa uji.

Dengan keadaan hamil, tentu menjadi kondisi krusial untuk membawa istri keluar negeri meski dapat menyusul di tahun kedua. Di waktu bersamaan, ada pembukaan lowongan di Yogyakarta. Dengan berbagai pertimbangan, terutama memiliki kesibukan saat menunggu di Indonesia, istri mencoba mendaftar. Dan tidak disangka, pendaftar hanya dua orang dan istri diterima.

Tentu, cerita singkat ini hanya menggambarkan bahwa setiap dari kita punya perjalanannya masing-masing. Dengan tidak berhenti berharap, istri dapat menyusul kuliah di sini setelah masa prajabatan. Sekarang, kami memang harus menjalankan peran kami masing-masing untuk belajar dan mengajar. InsyaAllah ada peran-peran besar yang talah disiapkan Allah di masa datang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Untuk Istriku 2

kalut

Keluarga PU 2012