Kuliah di National Tsing Hua University, Taiwan
Sejak memutuskan pindah negara tujuan studi, dari Malaysia ke Taiwan, rasanya ini berat sekali.
Semenjak datang di sini, meski Taiwan tak bersalju, suhu sehari-hari adalah sepuluh derajat selsius. Dari bangun tidur sampai bangun lagi harus memakai jaket gunung. Bedcover dan kasur semua terasa anyes. Bisa dikatakan bedcover hangat karena tubuh kita sendiri. Semenjak tahu cuaca dingin tak bersalju ini cukup menusuk membuatku tak ingin melihat salju lagi.
Kuliah di sini, kami dicampur dengan mahasiswa lokal. Tak ada spesial-spesialnya bagi mahasiswa internasional. Malah-malah, menjadi kelas nomor dua. Bisa dikatakan, orang-orang Taiwan yang cenderung terstruktur membuatku malu betapa kacaunya kehidupan di negeri sendiri. Di sini, segala sesuatu harus antri dan menyiapkan payung, hingga kita tak ada alasan berteduh jika sedang mengantri.
Semenjak masuk kelas pertama kali, kesan pertama adalah berat sekali. Berapa lama otakku ini sudah bersemedi tak berkutik dengan bangku perkuliahan. Di sini, dosen menyampaikan materi begitu cepat hingga tak mampu menulis di buku. Aku harus memotret dan menulis kembali di rumah. Sulitnya, materi kuliah pertamaku adalah termodinamika dan elektron mikroskopi. Semuanya menggabungkan ilmu klasik dan ilmu modern. Otak harus bercabang kemudian bertemu di satu titik. Dan itu rasanya luar biasa hebat dan berat.
Sesekali, aku menyesal. Di masa lalu aku kemana, hingga tak paham dengan semua materi yang disampaikan oleh dosen. Apalagi, cepatnya dosen mengajar disini bisa dikatakan lima kali lipat lebih cepat dari pengalaman sarjana dulu. Rasa-rasanya, kadang, pengen kuliah di Indonesia saja ketika "syok" ini menghinggap.
Berbicara soal ujian, disini orang-orang taiwan mendapatkan nilai-nilai tinggi. Padahal, untuk mendapatkan nilai 7 saha, aku harus membangun candi. Kadang kala, ilmu pasrah pada Tuhan Yang Maha Esa yang paling ampuh.
Tetapi, beberapa teman menyampaikan bahwa berkuliah di beberapa universitas terbaik di Taiwan memang tidak mudah. Orang-orang Taiwan lebih nampak kerja kerasnya. Meskipun begitu, beberapa orang Taiwan bersedia membantu kita jika dalan kesulitan.
Sedikit cerita ini hanya untuk melepaskan penat bahwa awal-awal berkuliah di National Tsing Hua University luar biasa tidak mudah. Otak-otak anak kampus sini terpancar kecermelangannya. Orang-orang Indonesia menyebut ini kampus ITB nya Taiwan. Tak aneh jika, suasana belajar mereka kadang membuat kita tercekik hebat dan termitivasi kuat.
Semoga Allah memudahkanku di masa depan.
Tulisan pasca midterm midterm hebat.
National Tsing Hua University, 10 Mei 2019.
Komentar
Posting Komentar