Sepersen Motivasi, Sejuta Aksi: Awardee pun bisa Galau
Perjalanan dari perpustakaan hari ini menuai sebuah kisah. Perbincanganku dengan teman terkait rencana apa yang akan dilakukan setelah selesai nanti.
Perbincangan dimulai dengan pembahasan jurusan kuliah. Lagi-lagi, aku sempat galau kalau membahas ini dengan siapapun. Tak seyakin wawancara dulu. Wawancara apakah? Seberkas kisah wawancara beasiswa LPDP beberapa tahun silam.
Dengan duduk tegap, pakaian rapi bak manajer bank, dan tak lupa kemeja baru berdasi biru, aku menatap para interviewer dengan sangat yakin. Dengan Bahasa inggris terbata-bata, aku jawab semampuku.
Pertanyaan terkait kenapa memilih jurusan Materials Science, aku jawab dengan yakin bahwa jurusan ini paling tepat dengan minat penelitianku. Para pewawancarapun mengangguk-ngangguk tanda mereka percaya.
Pertanyaan berikutnya, mengundang gelak tawa. Pertanyaan terkait apa rencanaku setelah lulus nanti. Aku jawab aku ingin menjadi dosen. Bisa dibilang, jabatan ini sudah dianggap "remeh-temeh" oleh pewawancara LPDP karena "terlalu biasa" dan "terlalu umum".
Siring berjalannya waktu, seringkali aku membaca lowongan pembukaan dosen. Adakah kiranya yang membutuhkanku di masa depan. Dan jawabannya sangatlah minim. Fakta ini diperkuat bahwa akademisi di Indonesia beserta peraturannya suka sekali dengan jabatan dosen yang diampu oleh lulusan murni linier. Kadang kala, penerimaan CPNS pun menjadi rancu karena penamaan jurusan yang beragam harus dipaksa sempit. Ilmu yang begitu luas pun, harus ditulis dalam kata sebuah jurusan.
Selain itu jurusan materials science yang terkenal dengan betapa mahalnya adalah jurusan yang sangat tidak populer. Jika tidak salah, tak lebih dari sepuluh kampus di Indonesia yang memiliki jurusan ini. Itu pun mereka cenderung menamainya dengan materials dan logam.
Tak berhenti di situ, istri yang sudah diterima PNS di Jogja pun menjadi tantangan bahwa memilih keluarga atau karir. Sebagai yang lebih lambat diterima bekerja, aku harus menyesuaikan dengan istri. Jika pun pekerjaan yang sesuai itu ada di luar Jogja, aku pun akan merelakan tubuh kembang anak jauh dari mata dan membiarkan istri hidup kedinginan dalam kemewahan.
Perenungan ini memakan waktu lebih dari berpuluh-puluh purnama yang cenderung menggalaukan. Dan suatu ketika, tibalah muncul optimisme itu. Layaknya iman yang naik turun, percaya diri ini rasa-rasanya muncul dari langit. Tentang apa yang harus aku lakukan agar masa depanku cerah.
Perasaan ini aku telusur. Aku ingat pesan Ibu Menteri Sri Mulyani, jika kita memiliki permasalahan yang begitu kompleks, kita semestinya menyelesaikannya satu persatu dan memecah nya menjadi keeping-keeping masalah kecil.
Aku jadi teringat, perjalanan hidup dua tahun ini, selepas lolos beasiswa LPDP. Rasa suka itu dicampur rasa ragu dalam hati. Seolah-olah Allah sedang menjadikannya sebagai ujian dalam sukacita. Harusnya, aku sangat bahagia diterima beasiswa di luar negeri. Tapi nyatanya, hati bergejolak akan urusan lain seperti pernikahan, rumah, pekerjaan, dan lain-lain. Tak dipungkiri, melepaskan pekerjaan di UII itu bukan semudah melepaskan cincin dari jari. Tiga tahun mengabdi di sana menciptakan bekas dan menorehkan kisah. Ditambah lagi, keraguan akan pekerjaan di masa datang yang akan semakin sulitnya.
Kemudian, dua tahun ini adalah rekrutmen CPNS besar-besaran. Aku selalu mengatakan, aku kayaknya tidak mau mendaftar dulu. Aku mau menyelesaikan amanah beasiswa LPDP dulu. Tetapi, karena hati yang berbolak-balik, akhirnya aku mendaftar di waktu-waktu terakhir dan akhirnya menorehkan secuil keperihan. Tiba-tiba dinaikkan dan tiba-tiba dijatuhkan.
Sulit dikata memang, tapi akhirnya aku sampai di Taiwan sekarang. Masih dengan kegalauan nyata tentang masa depan. Tetapi, kegalauan ini aku coba pandang dari sisi berbeda. Aku tarik garis lurusnya dari arah gelap. Dan akhirnya aku bisa melihat cahaya darinya.
Masa depan siapa yang cerah? Masa depan siapa yang transparan? Masa depan siapa yang tidak rahasia?
Sering kali, kita harus memandang masalah duniawi ini dengan kacamata iman. Apa yang harus dan bisa kita lakukan sekarang, agar kegalauan akan masa datang tidak menerjang.
Aku tertohok dengan diri sendiri, dengan optimisme sendiri. Aku lupa perjuangan mendapatkan beasiswa LPDP itu aku rintis selama dua tahun lebih. Aku rela sakit-sakitan untuk mendapatkannya. Tapi kegalauan membuat perjuangan ini seakan ingin dibuang.
Aku kembali percaya diri lagi, setelah aku ingat kembali hakekat mula-mula dari sesuatu. Menilai dunia dengan hati dan melapisinya dengan iman.
Sudah pasti, tidak ada amanah yang ringan, tidak ada jabatan yang bisa dibanggakan. Seakan-akan, tak mampu kita menyebutkan peran kita karena kekurangan kita menjalankannya.
Ingat kembali, esensi saat ini. Ingat kewajiban inti. Bahwa tugasku sekarang adalah belajar sebaik mungkin. Untuk menuntaskan amanah yang luar biasa berat ini. Kerjakan kepingannya dengan rindu. Kerjakan potongannya dengan senyuman cinta. Lakukan dengan yang termudah. Jalankan dengan jalan paling jujur.
Masa depan kita sangat bergantung dari kerja-kerja kecil kita saat ini. Bagaimana kita mendidik diri sendiri. Bagaimana kita menggoreskan karakter istimewa kita dalam diri kita. Bagaimana kita melatih integritas kita. Semua adalah beribu ladang menimba ilmu.
Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang bermartabat. Tak perlu Indonesia menjadi negara adigdaya, jika masih ada penduduknya yang lapar dan tak punya rumah. Biarlah negara kita negara yang sederhana, negara yang anak cucunya dapat sekolah. Dengan pendidikannya, tak hanya melahirkan pekerja atau pekerjaan. Tapi pendidikan yang melahirkan penerus peradaban Indonesia yang beradab.
Kemudian, jadi apa aku nanti?
Kini, aku sudah memantapkan hati. Jadi apapun itu, tukang sapu, pelayan restauran, satpam, pelayan bank Syariah, guru les, guru privat, atau pengusaha. Semua baik.
Aku hanya ingin kembali ke Jogja dengan pribadi yang berbeda. Pribadi yang berpikiran luas, pribadi yang revolusioner, pribadi yang universal, pribadi yang alim, pribadi yang cendikia, pribadi yang arif. Tak apa aku jadi tukang sapu, bahkan pekerjaannya adalah pekerjaan yang paling aku sukai, membuat sesuatu menjadi bersih dan rapi.
Tapi, tulisan kita adalah doa. Tuhan tahu dimana tempat kita. Dimana ladang amal kita. Tuhan tahu semua. Tuhan pun tahu isi essay kontribusiku saat mendaftar LPDP.
Semoga Allah meridhoi langkah-langkah kita.
Taiwan, 26 Juli 2019.
Perbincangan dimulai dengan pembahasan jurusan kuliah. Lagi-lagi, aku sempat galau kalau membahas ini dengan siapapun. Tak seyakin wawancara dulu. Wawancara apakah? Seberkas kisah wawancara beasiswa LPDP beberapa tahun silam.
Dengan duduk tegap, pakaian rapi bak manajer bank, dan tak lupa kemeja baru berdasi biru, aku menatap para interviewer dengan sangat yakin. Dengan Bahasa inggris terbata-bata, aku jawab semampuku.
Pertanyaan terkait kenapa memilih jurusan Materials Science, aku jawab dengan yakin bahwa jurusan ini paling tepat dengan minat penelitianku. Para pewawancarapun mengangguk-ngangguk tanda mereka percaya.
Pertanyaan berikutnya, mengundang gelak tawa. Pertanyaan terkait apa rencanaku setelah lulus nanti. Aku jawab aku ingin menjadi dosen. Bisa dibilang, jabatan ini sudah dianggap "remeh-temeh" oleh pewawancara LPDP karena "terlalu biasa" dan "terlalu umum".
Siring berjalannya waktu, seringkali aku membaca lowongan pembukaan dosen. Adakah kiranya yang membutuhkanku di masa depan. Dan jawabannya sangatlah minim. Fakta ini diperkuat bahwa akademisi di Indonesia beserta peraturannya suka sekali dengan jabatan dosen yang diampu oleh lulusan murni linier. Kadang kala, penerimaan CPNS pun menjadi rancu karena penamaan jurusan yang beragam harus dipaksa sempit. Ilmu yang begitu luas pun, harus ditulis dalam kata sebuah jurusan.
Selain itu jurusan materials science yang terkenal dengan betapa mahalnya adalah jurusan yang sangat tidak populer. Jika tidak salah, tak lebih dari sepuluh kampus di Indonesia yang memiliki jurusan ini. Itu pun mereka cenderung menamainya dengan materials dan logam.
Tak berhenti di situ, istri yang sudah diterima PNS di Jogja pun menjadi tantangan bahwa memilih keluarga atau karir. Sebagai yang lebih lambat diterima bekerja, aku harus menyesuaikan dengan istri. Jika pun pekerjaan yang sesuai itu ada di luar Jogja, aku pun akan merelakan tubuh kembang anak jauh dari mata dan membiarkan istri hidup kedinginan dalam kemewahan.
Perenungan ini memakan waktu lebih dari berpuluh-puluh purnama yang cenderung menggalaukan. Dan suatu ketika, tibalah muncul optimisme itu. Layaknya iman yang naik turun, percaya diri ini rasa-rasanya muncul dari langit. Tentang apa yang harus aku lakukan agar masa depanku cerah.
Perasaan ini aku telusur. Aku ingat pesan Ibu Menteri Sri Mulyani, jika kita memiliki permasalahan yang begitu kompleks, kita semestinya menyelesaikannya satu persatu dan memecah nya menjadi keeping-keeping masalah kecil.
Aku jadi teringat, perjalanan hidup dua tahun ini, selepas lolos beasiswa LPDP. Rasa suka itu dicampur rasa ragu dalam hati. Seolah-olah Allah sedang menjadikannya sebagai ujian dalam sukacita. Harusnya, aku sangat bahagia diterima beasiswa di luar negeri. Tapi nyatanya, hati bergejolak akan urusan lain seperti pernikahan, rumah, pekerjaan, dan lain-lain. Tak dipungkiri, melepaskan pekerjaan di UII itu bukan semudah melepaskan cincin dari jari. Tiga tahun mengabdi di sana menciptakan bekas dan menorehkan kisah. Ditambah lagi, keraguan akan pekerjaan di masa datang yang akan semakin sulitnya.
Kemudian, dua tahun ini adalah rekrutmen CPNS besar-besaran. Aku selalu mengatakan, aku kayaknya tidak mau mendaftar dulu. Aku mau menyelesaikan amanah beasiswa LPDP dulu. Tetapi, karena hati yang berbolak-balik, akhirnya aku mendaftar di waktu-waktu terakhir dan akhirnya menorehkan secuil keperihan. Tiba-tiba dinaikkan dan tiba-tiba dijatuhkan.
Sulit dikata memang, tapi akhirnya aku sampai di Taiwan sekarang. Masih dengan kegalauan nyata tentang masa depan. Tetapi, kegalauan ini aku coba pandang dari sisi berbeda. Aku tarik garis lurusnya dari arah gelap. Dan akhirnya aku bisa melihat cahaya darinya.
Masa depan siapa yang cerah? Masa depan siapa yang transparan? Masa depan siapa yang tidak rahasia?
Sering kali, kita harus memandang masalah duniawi ini dengan kacamata iman. Apa yang harus dan bisa kita lakukan sekarang, agar kegalauan akan masa datang tidak menerjang.
Aku tertohok dengan diri sendiri, dengan optimisme sendiri. Aku lupa perjuangan mendapatkan beasiswa LPDP itu aku rintis selama dua tahun lebih. Aku rela sakit-sakitan untuk mendapatkannya. Tapi kegalauan membuat perjuangan ini seakan ingin dibuang.
Aku kembali percaya diri lagi, setelah aku ingat kembali hakekat mula-mula dari sesuatu. Menilai dunia dengan hati dan melapisinya dengan iman.
Sudah pasti, tidak ada amanah yang ringan, tidak ada jabatan yang bisa dibanggakan. Seakan-akan, tak mampu kita menyebutkan peran kita karena kekurangan kita menjalankannya.
Ingat kembali, esensi saat ini. Ingat kewajiban inti. Bahwa tugasku sekarang adalah belajar sebaik mungkin. Untuk menuntaskan amanah yang luar biasa berat ini. Kerjakan kepingannya dengan rindu. Kerjakan potongannya dengan senyuman cinta. Lakukan dengan yang termudah. Jalankan dengan jalan paling jujur.
Masa depan kita sangat bergantung dari kerja-kerja kecil kita saat ini. Bagaimana kita mendidik diri sendiri. Bagaimana kita menggoreskan karakter istimewa kita dalam diri kita. Bagaimana kita melatih integritas kita. Semua adalah beribu ladang menimba ilmu.
Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang bermartabat. Tak perlu Indonesia menjadi negara adigdaya, jika masih ada penduduknya yang lapar dan tak punya rumah. Biarlah negara kita negara yang sederhana, negara yang anak cucunya dapat sekolah. Dengan pendidikannya, tak hanya melahirkan pekerja atau pekerjaan. Tapi pendidikan yang melahirkan penerus peradaban Indonesia yang beradab.
Kemudian, jadi apa aku nanti?
Kini, aku sudah memantapkan hati. Jadi apapun itu, tukang sapu, pelayan restauran, satpam, pelayan bank Syariah, guru les, guru privat, atau pengusaha. Semua baik.
Aku hanya ingin kembali ke Jogja dengan pribadi yang berbeda. Pribadi yang berpikiran luas, pribadi yang revolusioner, pribadi yang universal, pribadi yang alim, pribadi yang cendikia, pribadi yang arif. Tak apa aku jadi tukang sapu, bahkan pekerjaannya adalah pekerjaan yang paling aku sukai, membuat sesuatu menjadi bersih dan rapi.
Tapi, tulisan kita adalah doa. Tuhan tahu dimana tempat kita. Dimana ladang amal kita. Tuhan tahu semua. Tuhan pun tahu isi essay kontribusiku saat mendaftar LPDP.
Semoga Allah meridhoi langkah-langkah kita.
Taiwan, 26 Juli 2019.
Komentar
Posting Komentar