Surat Rindu untuk Oktober
Kemarin istri bertanya, apa arti surat rindu untuk Oktober. Serta merta ku jawab, tulisan spesial untuknya yang akan bertambah usia.
Setiap kali dia berulang tahun, aku selalu teringat pertama kali mengirimkan pesan singkat kepadanya, "maukah kamu menjadi bagian penting dalam hidupku?"
Ya, itu adalah bagian lamaran yang terselip. Tetapi berbeda dengan perempuan, terkadang mereka ingin kata-kata yang terangkai manis menjadi kata-kata yang serba jelas.
Jawabnya,"maksudnya apa?, aku tidak paham."
Mungkin karena aku bertanya dengan tiba-tiba, itu pun lewat pesan singkat. Sudah tak tahan memang hidup sendiri dan menyendiri. Sudah tak tahan memang dengan perasaan bersalah karena tak kunjung menikah. Sudah tak tahan memang, dengan pertemanan yang tanpa berujung.
Ku jawab lagi,"maukah kau menjadi istriku?"
Entah apa yang di balik pikirannya. Dia tidak menanyakan alasan kenapa aku ingin menikah dengannya. Dia bilang "bersedia".
Ah, salah satu fase mencari pasangan tiba di titik kelegaannya. Ternyata, ada yang mau menikah denganku batinku.
Meskipun begitu, setelah menikah, aku pun mengejar jawabannya kenapa mau menikah denganku. Ah, dengan seseorang yang ekonominya masih amburadul, dengan orang yang hafalan Alqurannya masih sebatas tiga surat terakhir, dengan orang yang jabatannya masih menjadi bawahan, dan dengan orang yang tingkat pendidikannya menyandang sebagai peraih pengangguran tinggi di Indonesia.
Jawabannya hanya singkat, karena kenyamanan.
Mungkin kini itulah yang ingin kusampaikan pada bulan Oktober depan. Bulan dimana kisah nyaman tetap menjadi kristal rindu. Terpaut jarak dan terpaut waktu.
Di ulang tahunnya, di tahun kedua pernikahan kami, aku tak bisa menemaninya merayakan kecil. Entah, menjadi suami yang memberi nyaman seperti macam apa.
Tahun lalu, dengan kondisi ekonomi pernikahan pada umumnya pernikahan muda. Yang cenderung terseok-seok. Aku masih sempat membelikan kue tart kecil yang tak lebih dari 100 ribu. Meski begitu, kami merayakan pernikahan kami di kontrakan sederhana bagi pasangan muda.
Tak ada kemewahan, tapi entah kenapa, aku merindukannya.
Meski demikian, aku masih ingat betul tahun lalu, istri yang sedang mengandung tak mampu menyantap kue tart itu. Memang, terkadang, pemberian bukan seberapa ternikmati, tetapi pemberian ikhlas dengan hati.
Kini, di tempat jauh ini. Mungkin aku sedang benar-benar sakit-sakitan. Sakit mala rindu yang cenderung akut.
Seyogyanya, setelah kemarin aku pulang sebentar menengok keluarga di Jogja. Rasa kangen itu akan sedikit terobati sehingga dapat memupuk semangat belajar lagi.
Ah, tapi sebaliknya. Saat berangkat dari airport pun, sebenarnya aku tak mampu menahan air mata. Meski, aku sembunyikan hingga di pesawat.
Entah kenapa, pertemuan singkat bulan lalu, malah menanamkan kerinduan yang tak terkira.
Kelelahan akan belajar kadang mencekik rasa di hati. Kenapa hidup berjuang sesakit ini. Kenapa tak bersyukur saja tinggal di Jogja tanpa merenggut pahitnya perantauan.
Terkadang, rasa putus asa itu menghinggapi.
Mungkin benar, jika ada yang bilang. Jika ingin belajar tinggi, tunda pernikahannmu.
Hingga aku tak akan merasakan kerinduan selebih ini.
Sebenarnya, aku hanya rindu menatap wajah sederhananya. Yang tertidur pulas di sampingku. Karena sesungguhnya aku adalah ksatria yang benar-benar sepi.
Mungkin benar bahwa aku begitu lemah sekarang, tak seperti dulu yang mampu berteriak-teriak kepada orang lain. Sekarang, membisikkan semangat dalam hati agar tetap ingat orang di rumah butuh makan dan tempat tinggal saja sempoyongan.
Ah jadi teringat ketika berbeda pendapat dengan istri. Yang aku tak mau ngalah sendiri. Akhirnya, pertapaan ini mengungkapkan bahwa keistimewaan dia, dengan berbedanya dia itu lebih menyenangkan daripada berjauh-jauhan ataupun perpisahan sesaat.
Ah, mungkinkah ini cinta?
Karena aku dalam kondisi yang tak seimbang sekarang.
Kapal yang koyak dan pesawat yang berjalan miring.
Ya, aku masih mampu berjalan lambat, tapi gelayutan sepi rasanya menyiksa sekali.
Ah, ternyata aku lemah sekali, hingga mampu menulis ini.
Mungkin, surat rinduku ini hanya mampu di tulis dalam keadaan tersungkur.
Mungkin, Tuhan sedang menunjukkan tentang betapa apanya diri sendiri.
Mungkin, Tuhan sedang menyiapkan roda di posisi atas.
Semoga Allah memampukanku melewatinya.
Semoga Allah memampukanmu melewatinya.
Semoga Allah menjagamu dalam sholatmu.
Semoga pertambahan umurmu adalah bagian dari rahmat.
Semoga rinduku adalah ketulusan bahwa aku ingin engkau menjadi bagian penting dalam hidupku.
Taiwan, 29 September 2019
Agung Purnomo
Surat Rindu untuk Oktober
Komentar
Posting Komentar