Surat Untuk Istriku 2
Sudah mendekati setahun berada di negara Taiwan. Sungguh peluang yang sangat menakjubkan. Lebih-lebih, masuk dalam universitas dengan rangking yang tinggi di negara ini. Seringkali, orang-orang mengatakan bahwa universitas terbaik nomor dua setelah NTU.
Memilih universitas ini pun dulu tiba-tiba. Pemrosesan pendaftaran hingga VISA saya kategorikan sangat cepat.
Menjalani perkuliahan yang hampir separuh waktu, tentu aku bisa menilai betapa sulitnya mengikuti perkembangan belajar di sini. Tapi sebenarnya karena aku memilih kursus-kursus yang cukup sulit. Lagi-lagi, penilaian di sini selalu menggunakan sistem distribusi nilai. Iklim belajar adalah iklim kompetitif.
Belajar master harusnya tak coba-coba, apalagi kalau belum tahu apa-apa. Lebih-lebih kalau belajar master hanya untuk menjinakkan hasrat di jiwa. Perlu persiapan yang matang dan modal yang cukup kuat agar tidak tetinggal jauh.
Hingga akhir-akhir ini, masih saja sering mendapat nilai sekitar enam. Dan kini kukatakan aku memang tidak pintar-pintar amat. Harus kuakui. Ditambah lagi, aku sulit sekali bergaul dengan orang-orang baru. Aku cenderung pilih-pilih teman sehingga informasi menjadi cukup tersendat.
Seringkali, ketika Lelah, aku rindu istriku. Aku sering saja kesepian di sini. Karena aku harus berjuang seorang diri.
Tapi, aku masih ingat betul ketika berangkat dulu. Aku tak mampu memboyongnya ke sini. Dan akhirnya, sekarang malah istri sudah bekerja.
Berkali-kali aku meyakinkannya untuk menyusulku. Tapi mungkin dia benar. Dia masih kualahan mengurus si kecil di rumah.
Kali ini, tiba saatnya aku harus mengatakan iya padanya. Aku harus bahagia dengan berjalan sendiri. Karena membayangkan bahwa jika istriku juga sekolah di sini, betapa lelahnya bekerja rodi. Jika tidak, jika pun ia mencintai belajar, tentu si kecil akan kehilangan dengan sempurna kasih sayang orang tua.
Aku harus paham bahwa menjadi seorang ibu dan istri itu tidak mudah. Betapa kerepotannya kalau harus lembur dan mengurus bayi yang masih merah. Apalagi kalau sistem pembelajaran kampus yang gila-gilaan.
Sesekali hanya melihat warna merah jambunya saja, orang yang bisa belajar berdua dan beranak pinak di luar negeri. Tentu banyak pengorbanannya dan tentu banyak rahasianya. Apalagi, setiap individu punya kapasitasnya sendiri.
Adapun, istri di Indonesia dengan amanahnya sendiri, aku di negara ini dengan amanahnya sendiri. Manis jambu, pahit getir adalah cerita. Yang seharusnya mengingatkanku untuk bahagia.
Sesekali, kesedihan di Taiwan itu kalau ingat nilai ulangan yang segitu-segitu saja. Alih hasil dari membandingkan dengan orang lain.
Tapi sungguh nikmat itu tidak kemana, sebenarnya yang lebih menderita pun ada. Mereka menggunakan beasiswa dari negara ini yang wajib mendapatkan nilai A bulat di setiap mata kuliahnya. Kalau tak mampu, beasiswanya pun gugur.
Bukan berarti beasiswa LPDP, tanpa resiko. Beasiswa ini juga punya nilai minimal. Tetapi, kalau ingat perjuangan sendiri yang sudah belajar yang terbaik, menjadikan hati menjadi tentram dan pasrah.
Mau tak mau hidup harus diperjuangkan dan sesekali diperlukan untuk dipertaruhkan.
Baik, karena surat ini untuk isteriku yang mau tidak mau di masa depan dia juga akan S3 sesuai kebutuhan karir akademiknya. Sepertinya, tak salah sekolah di Indonesia saja. Agar anak-anak juga tetap tumbuh dengan kasih sayang ibunya. Semoga Allah memberkahi.
Taiwan, 12 Desember 2019
Agung Purnomo
Master Student of Materials Science Department
National Tsing Hua University
Komentar
Posting Komentar