Refleksi Dua Tahun Pernikahan: Asing di Negara sendiri
Tulisan ini aku tulis di meja ruang tamu rumah mertua. Pada bulan ini, kami akan merayakan ulang tahun perkawinan yang kedua. Tepatnya tanggal 24 Februari nanti. Meja ruang tamu ini sungguh menjadi saksi naik turunnya hati proses pernikahan. Sungguh, bohong jika sebuah pernikahan akan selalu diselimuti kebahagiaan. Malah, pahit getir akan sering dirasakan dalam membangun mahligai rumah tangga. Terlebih, bagiku yang sangat minim pengetahuan dalam membangun ilmu pengetahuan yang ideal.
Tulisan ini sangat aku fokuskan untuk meringankan beban sendiri serambi mengoreksi diri sendiri. Sangat berhati-hati agar benar-benar menjadi sebuah raport pribadi yang dapat membangun masa depan.
Pernikahan banyak macamnya. Aku tidak bisa membandingkan pernikahanku dengan orang lain. Tapi aku sebisa mungkin menilai diriku sebagai seorang suami dan ayah dalam sebuah dunia terkotak yang memiliki jendela. Aku mampu melihat dunia luar tapi sebaik apapun aku menginginkan dunia di luar jendela itu, itu hanya di luar rumah kami. Terlebih lagi, rumah kami adalah bayangan idealis yang masih berbentuk cetak biru.
Menjadi sebuah keluarga yang sempurna bisa jadi adalah idaman banyak orang. Di sini, frame dalam benakku tentang kesempurnaan rumah tangga adalah tercukupinya kebutuhan fisik dan rohani anggota keluarganya. Sungguh, suatu penjabaran kesempurnaan yang sangat sederhana. Sesederhana bahwa aku memiliki pekerjaan yang layak dan berpenghasilan besar. Sesederhana, aku dapat membelikan rumah berlantai dua yang kamarnya ada enam. Hingga aku mampu berhitung bahwa enam kamar itu cukup menampung tiga anak masa depan kami dan satu kamar tersisa bagi keluarga yang ingin menginap menikmati kesempurnaan keluarga kami. Lagi, di depannya ada garasi luar yang terparkir mobil bermuatan delapan orang, hingga kami dapat membawa serta dua buah keluarga besar kami menikmati mobil mewah berwarna merah melihat tugu Yogyakarta. Panasnya Jogja tak tadi masalah karena mobil mewah ini memiliki pendingin udara sempurna. Kemudian, mobil itu dapat terparkir paling depan di depan resto sejenak untuk melepaskan waktu makan bersama.
Nyatanya, hari ini aku masih duduk di kursi hangat Villa Pondok Mertua. Nyatanya aku masih pegal-pegal dengan menyetir roda dua. Nyatanya, aku masih membunuh waktu untuk mengejar ketertinggalan ekonomi keluarga.
Perkara ekonomi menjadi bagian penting bagi suami, tak diragukan lagi sumber rezeki keluarga layaknya dari tangan sang ayah. Bekerja hebat di luar rumah hingga sore pulang membawa emas berlian. Membiarkan istri dan anak menikmati hidupnya. Tak perlu bereka-reka agar sumber keuangan yang pendek dapat menyentuh segala sisi kehidupan.
Kehidupan keluarga dimulai ketika dapat berdiri sendiri dalam bangunan dengan istilah rumah. Sulit di bantah, kemerdekaan sebuah keluarga akan sulit tercapai jika masih bergantung pada orang tua. Sisi-sisi keputusan penting menjadi ranah umum hingga pergerakan pendidikan pada keluarga menjadi sulit. Menjadi seorang yang belum merdeka tentu akan menghormati pemilik peradaban. Tak elok perubahan itu dengan revolusi, perubahan yang penuh kehati-hatian hingga berubah tanpa kesan.
Sering kali merasa kesal sendiri dengan diri sendiri pula, kenapa menjadi pemimpin itu sulit. Terlebih lagi, kesal memuncak kalau ingat bahwa suami adalah pemimpin hingga lupa sendiri hakikat sebuah kepemimpinan. Sebagai seorang laki-laki, tentu sulit sekali jika segi-segi kehidupannya dikepung rasa enak dan tidak enak. Hingga semua keputusan harus diputuskan dengan pertimbangan enak dan tidak enak. Dalam dua tahun pernikahan, tentu pemikiran kami banyak yang berbeda. Perkara ini bukan berarti ada pendapat dari salah satu dari kami yang salah, tetapi kami memiliki standar yang berbeda dalam menilai kebenaran. Perkara ini tak akan selesai hingga kiamat tiba, karena kami dibesarkan di lingkungan yang berbeda.
Saat jengkal-jengkal jengkel menggelayut, aku lah saat itu lupa hakikat sebenarnya pemimpin meski aku berteriak aku ini pemimpin. Saat bait-bait kelelahan koordinasi bertamu, di situlah aku sedang egois ingin dijadikan suami, padahal kata suami itu sebuah peran bukan sekedar penghormatan.
Kelelahan dalam berumah tangga tentu kadang tiba ketika sedang lupa. Bahwa berharap pada orang lain adalah investasi kekecewaan. Sungguh, aku sering lupa bahwa aku terlalu meminta banyak pada orang tua dan pasangan dalam mewujudkan sebuah pernikahan yang ideal. Hingga tersadar ketika sudah tahu resikonya.
Sempat pula, memaksa untuk mengontrak sebuah rumah kecil. Hal ini saja, sudah mengusik ketenangan keluarga. Betul bahwa mengamalkan perkataan ustadz itu, tetapi aku lupa aku harus mengedukasi terlebih dahulu sebelum beraksi. Mengamalkan agama pun jika itu sampai membuat rasa tiba-tiba pada keluarga tentu ada yang aku alpha.
Aku sering lupa bahwa aku belajar hingga pancuran gading ilmu. Sedang keluarga, mereka yang membanting tulang membiayayinya tanpa meningkat pemahamannya secepat aku minum air. Semakin ditinggikan pendidikan, tentu akan tercipta gap berbeda pemahaman. Alphanya, aku berteriak dengan penuh kebenaran padahal ini sulit dipahami.
Refleksi dalam berkeluarga tentu harus membangun suatu pandangan yang dapat dipahami oleh kedua belah keluarga. Jika bertindak sesuka pemikiran, meski benar, tentu akan membuat khawatir. Harus membiasakan untuk mendiskusikan agar keluarga di luar sebuah keluarga dapat menerima keputusan dengan lapang.
Ketika sedang terluka, merasa tidak dihargai, akulah yang pertama harus aku ingat, aku masih duduk di kursi rotan ini. Aku yang belum mampu berdiri di kaki sendiri ini menggantikan tugas orang tua. Aku hanya ingat tentang sebuah mahkota kerajaan tapi lupa bahwa kehidupan bernegara itu harus sampai ke akar-akarnya, semua perut terisi, semua tempat tidur berselimut.
Jika sedang kecewa, jangan pernah lupa dengan kewajiban sendiri yang belum tertunaikan. Meski entah kapan tertunaikan. Rasanya, kalau ingat tugas besar sendiri hingga keinginan untuk makan tertentu pun hilang. Haruslah sering-sering beristigfar agar dapat lurus ke depan merealisasikan sebuah kehidupan. Sepertinya, memang sebuah pernikahan itu tak melulu tentang menikmati, tetapi tentang berjuang tanpa lelah.
Yogyakarta, 3 Februari 2020.
Tulisan ini sangat aku fokuskan untuk meringankan beban sendiri serambi mengoreksi diri sendiri. Sangat berhati-hati agar benar-benar menjadi sebuah raport pribadi yang dapat membangun masa depan.
Pernikahan banyak macamnya. Aku tidak bisa membandingkan pernikahanku dengan orang lain. Tapi aku sebisa mungkin menilai diriku sebagai seorang suami dan ayah dalam sebuah dunia terkotak yang memiliki jendela. Aku mampu melihat dunia luar tapi sebaik apapun aku menginginkan dunia di luar jendela itu, itu hanya di luar rumah kami. Terlebih lagi, rumah kami adalah bayangan idealis yang masih berbentuk cetak biru.
Menjadi sebuah keluarga yang sempurna bisa jadi adalah idaman banyak orang. Di sini, frame dalam benakku tentang kesempurnaan rumah tangga adalah tercukupinya kebutuhan fisik dan rohani anggota keluarganya. Sungguh, suatu penjabaran kesempurnaan yang sangat sederhana. Sesederhana bahwa aku memiliki pekerjaan yang layak dan berpenghasilan besar. Sesederhana, aku dapat membelikan rumah berlantai dua yang kamarnya ada enam. Hingga aku mampu berhitung bahwa enam kamar itu cukup menampung tiga anak masa depan kami dan satu kamar tersisa bagi keluarga yang ingin menginap menikmati kesempurnaan keluarga kami. Lagi, di depannya ada garasi luar yang terparkir mobil bermuatan delapan orang, hingga kami dapat membawa serta dua buah keluarga besar kami menikmati mobil mewah berwarna merah melihat tugu Yogyakarta. Panasnya Jogja tak tadi masalah karena mobil mewah ini memiliki pendingin udara sempurna. Kemudian, mobil itu dapat terparkir paling depan di depan resto sejenak untuk melepaskan waktu makan bersama.
Nyatanya, hari ini aku masih duduk di kursi hangat Villa Pondok Mertua. Nyatanya aku masih pegal-pegal dengan menyetir roda dua. Nyatanya, aku masih membunuh waktu untuk mengejar ketertinggalan ekonomi keluarga.
Perkara ekonomi menjadi bagian penting bagi suami, tak diragukan lagi sumber rezeki keluarga layaknya dari tangan sang ayah. Bekerja hebat di luar rumah hingga sore pulang membawa emas berlian. Membiarkan istri dan anak menikmati hidupnya. Tak perlu bereka-reka agar sumber keuangan yang pendek dapat menyentuh segala sisi kehidupan.
Kehidupan keluarga dimulai ketika dapat berdiri sendiri dalam bangunan dengan istilah rumah. Sulit di bantah, kemerdekaan sebuah keluarga akan sulit tercapai jika masih bergantung pada orang tua. Sisi-sisi keputusan penting menjadi ranah umum hingga pergerakan pendidikan pada keluarga menjadi sulit. Menjadi seorang yang belum merdeka tentu akan menghormati pemilik peradaban. Tak elok perubahan itu dengan revolusi, perubahan yang penuh kehati-hatian hingga berubah tanpa kesan.
Sering kali merasa kesal sendiri dengan diri sendiri pula, kenapa menjadi pemimpin itu sulit. Terlebih lagi, kesal memuncak kalau ingat bahwa suami adalah pemimpin hingga lupa sendiri hakikat sebuah kepemimpinan. Sebagai seorang laki-laki, tentu sulit sekali jika segi-segi kehidupannya dikepung rasa enak dan tidak enak. Hingga semua keputusan harus diputuskan dengan pertimbangan enak dan tidak enak. Dalam dua tahun pernikahan, tentu pemikiran kami banyak yang berbeda. Perkara ini bukan berarti ada pendapat dari salah satu dari kami yang salah, tetapi kami memiliki standar yang berbeda dalam menilai kebenaran. Perkara ini tak akan selesai hingga kiamat tiba, karena kami dibesarkan di lingkungan yang berbeda.
Saat jengkal-jengkal jengkel menggelayut, aku lah saat itu lupa hakikat sebenarnya pemimpin meski aku berteriak aku ini pemimpin. Saat bait-bait kelelahan koordinasi bertamu, di situlah aku sedang egois ingin dijadikan suami, padahal kata suami itu sebuah peran bukan sekedar penghormatan.
Kelelahan dalam berumah tangga tentu kadang tiba ketika sedang lupa. Bahwa berharap pada orang lain adalah investasi kekecewaan. Sungguh, aku sering lupa bahwa aku terlalu meminta banyak pada orang tua dan pasangan dalam mewujudkan sebuah pernikahan yang ideal. Hingga tersadar ketika sudah tahu resikonya.
Sempat pula, memaksa untuk mengontrak sebuah rumah kecil. Hal ini saja, sudah mengusik ketenangan keluarga. Betul bahwa mengamalkan perkataan ustadz itu, tetapi aku lupa aku harus mengedukasi terlebih dahulu sebelum beraksi. Mengamalkan agama pun jika itu sampai membuat rasa tiba-tiba pada keluarga tentu ada yang aku alpha.
Aku sering lupa bahwa aku belajar hingga pancuran gading ilmu. Sedang keluarga, mereka yang membanting tulang membiayayinya tanpa meningkat pemahamannya secepat aku minum air. Semakin ditinggikan pendidikan, tentu akan tercipta gap berbeda pemahaman. Alphanya, aku berteriak dengan penuh kebenaran padahal ini sulit dipahami.
Refleksi dalam berkeluarga tentu harus membangun suatu pandangan yang dapat dipahami oleh kedua belah keluarga. Jika bertindak sesuka pemikiran, meski benar, tentu akan membuat khawatir. Harus membiasakan untuk mendiskusikan agar keluarga di luar sebuah keluarga dapat menerima keputusan dengan lapang.
Ketika sedang terluka, merasa tidak dihargai, akulah yang pertama harus aku ingat, aku masih duduk di kursi rotan ini. Aku yang belum mampu berdiri di kaki sendiri ini menggantikan tugas orang tua. Aku hanya ingat tentang sebuah mahkota kerajaan tapi lupa bahwa kehidupan bernegara itu harus sampai ke akar-akarnya, semua perut terisi, semua tempat tidur berselimut.
Jika sedang kecewa, jangan pernah lupa dengan kewajiban sendiri yang belum tertunaikan. Meski entah kapan tertunaikan. Rasanya, kalau ingat tugas besar sendiri hingga keinginan untuk makan tertentu pun hilang. Haruslah sering-sering beristigfar agar dapat lurus ke depan merealisasikan sebuah kehidupan. Sepertinya, memang sebuah pernikahan itu tak melulu tentang menikmati, tetapi tentang berjuang tanpa lelah.
Yogyakarta, 3 Februari 2020.
Komentar
Posting Komentar