Postingan

Surat Rindu untuk Oktober

Kemarin istri bertanya, apa arti surat rindu untuk Oktober. Serta merta ku jawab, tulisan spesial untuknya yang akan bertambah usia. Setiap kali dia berulang tahun, aku selalu teringat pertama kali mengirimkan pesan singkat kepadanya, "maukah kamu menjadi bagian penting dalam hidupku?" Ya, itu adalah bagian lamaran yang terselip. Tetapi berbeda dengan perempuan, terkadang mereka ingin kata-kata yang terangkai manis menjadi kata-kata yang serba jelas. Jawabnya,"maksudnya apa?, aku tidak paham." Mungkin karena aku bertanya dengan tiba-tiba, itu pun lewat pesan singkat. Sudah tak tahan memang hidup sendiri dan menyendiri. Sudah tak tahan memang dengan perasaan bersalah karena tak kunjung menikah. Sudah tak tahan memang, dengan pertemanan yang tanpa berujung. Ku jawab lagi,"maukah kau menjadi istriku?" Entah apa yang di balik pikirannya. Dia tidak menanyakan alasan kenapa aku ingin menikah dengannya. Dia bilang "bersedia". Ah, salah satu fase ...

Sepersen Motivasi, Sejuta Aksi: Awardee pun bisa Galau

Perjalanan dari perpustakaan hari ini menuai sebuah kisah. Perbincanganku dengan teman terkait rencana apa yang akan dilakukan setelah selesai nanti. Perbincangan dimulai dengan pembahasan jurusan kuliah. Lagi-lagi, aku sempat galau kalau membahas ini dengan siapapun. Tak seyakin wawancara dulu. Wawancara apakah? Seberkas kisah wawancara beasiswa LPDP beberapa tahun silam. Dengan duduk tegap, pakaian rapi bak manajer bank, dan tak lupa kemeja baru berdasi biru, aku menatap para interviewer dengan sangat yakin. Dengan Bahasa inggris terbata-bata, aku jawab semampuku. Pertanyaan terkait kenapa memilih jurusan Materials Science, aku jawab dengan yakin bahwa jurusan ini paling tepat dengan minat penelitianku. Para pewawancarapun mengangguk-ngangguk tanda mereka percaya. Pertanyaan berikutnya, mengundang gelak tawa. Pertanyaan terkait apa rencanaku setelah lulus nanti. Aku jawab aku ingin menjadi dosen. Bisa dibilang, jabatan ini sudah dianggap "remeh-temeh" oleh pewawanca...

Kuliah di National Tsing Hua University, Taiwan

Sejak memutuskan pindah negara tujuan studi, dari Malaysia ke Taiwan, rasanya ini berat sekali. Semenjak datang di sini, meski Taiwan tak bersalju, suhu sehari-hari adalah sepuluh derajat selsius. Dari bangun tidur sampai bangun lagi harus memakai jaket gunung. Bedcover dan kasur semua terasa anyes. Bisa dikatakan bedcover hangat karena tubuh kita sendiri. Semenjak tahu cuaca dingin tak bersalju ini cukup menusuk membuatku tak ingin melihat salju lagi. Kuliah di sini, kami dicampur dengan mahasiswa lokal. Tak ada spesial-spesialnya bagi mahasiswa internasional. Malah-malah, menjadi kelas nomor dua. Bisa dikatakan, orang-orang Taiwan yang cenderung terstruktur membuatku malu betapa kacaunya kehidupan di negeri sendiri. Di sini, segala sesuatu harus antri dan menyiapkan payung, hingga kita tak ada alasan berteduh jika sedang mengantri. Semenjak masuk kelas pertama kali, kesan pertama adalah berat sekali. Berapa lama otakku ini sudah bersemedi tak berkutik dengan bangku perkuliahan. Di...

Taiwan: Tentang Pendidikan dan Seorang Suami

Sejenak ingin menulis untuk menjernihkan kembali apa yang telah diisi. Tulisan ini dirasa perlu untuk menjawab banyak pertanyaan sama. Tulisan tentang bagaimana negara Taiwan dan bagaimana pendidikannya saya rasa sudah biasa. Sekali kita search di youtube bagaimana cara berkuliah di Taiwan, ribuan jawaban keluar dengan cenderung isi yang sama. Hal ini tidak bisa dipungkiri karena ribuan warga Indonesia sedang berkuliah di Taiwan. Sistem komparasi dengan menjadi mahasiswa di negara lain tentu akan menariik kesimpulan bahwa berkuliah di Taiwan itu biasa saja. Pun, tahun ini aku adalah satu-satunya awardee LPDP yang memilih Taiwan sebagai negara tujuan. Satu tahun yang lalu, diskusi dengan istri tentang negara tujuan studi sangat menarik. Pada dasarnya, kami memilih negara Malaysia sebagai tujuan berkuliah, dengan alasan dekat dengan Indonesia tentunya. Selain hal tersebut, kemampuan Bahasa Inggris kami yang tergolong spesial, sulit untuk menjangkau IELTS 6.5 pada masanya. Pada d...

Ibu, Aku ingin menikah

Ibu, Aku ingin menikah oleh Agung Purnomo Bismillah. Tulisan ini hanya sebagai pelentur pikiran yang seyogyanya otak ini sedang dipaksa untuk mengejar ketertinggalan bahasa untuk melengkapi amanah kepada negara. Tulisan ini insyaAllah adalah sebuah manifestasi pandangan, penglihatan, diskusi, dan proses panjang selama satu tahun ini memaknai sebuah keinginan menikah. Tulisan ini jauh dari benar dan hanya termotivasi untuk menyampaikan hal baik dari sisi sendiri. Menilik dua tahun lalu, dengan geregetnya pengajian ustad Salim Afillah, Ustad Cahyadi, Ustad Fauzil Adhim yang begitu menggugah naga dalam hati untuk menikah. Sebelumnya, bertargetan ingin membina karir dan merencanakan menikah antara umur 28 hingga 30 tahun. Sebagai anak kecil yang dididik di lingkungan konvensional, seorang pemuda dihadapkan pada fenomena menjadi hebat dulu hingga mapan. Orang tua senantiasa memotivasiku untuk membuat rumah dahulu, secara tidak sadar, keinginan beliau menjadi target yang berjejer di p...

Segurat Cerita Menunggu di BBTKLPP : Tentang Rindu Perjalanan ke Bandung Bersama Laboratorium Terpadu

Kemarin, grup Laboratorium Terpadu mencoba mengambil hasil uji di BBTKLPP. Tetapi, tempat ini yang bejubel dengan banyaknya pelanggan membuat kami tak mampu menantinya dan memutuskan kembali ke UII. Setelah kupikir-pikir, tempat ini letaknya tak jauh dari rumahku, hati berdecit sebaiknya menawarkan diri untuk kuambilkan saja di pagi hari sambil berangkat bekerja. Dengan beberapa pedoman dan petunjuk dari Mbak Ida dan Mbak Erika aku bawa lembar order untuk kucoba ambil sendiri. Jam delapan lebih dua puluh aku tiba di BBTKLPP, terlihat masih sepi hanya terdapat satu pelanggan. Antrian yang kudapatkan adalah angka satu. Sesaat aku duduk langsung dipanggil. Setelah kuserahkan lembar order dan kartu antrian, ternyata beberapa file perlu diedit. Kurang tahu bagian mana, karena aku memang belum begitu paham pengujian kimia. Alhasil, sudah setengah jam menanti, dan kuputuskan untuk menulis. Tulisan kali ini tentang perjalanan kami di Bandung. Kalau tidak salah tahun 2016 di akhir tahun. Pada...

Segurat Cerita Menunggu di Senen : Perjuangan VISA

Penghujung waktu sudah mulai menyentuh ujuang 2018. Hari yang telah ditunggu-tunggu. Sebagai awardee LPDP yang harus menanti bepuluh-puluh purnama sejaka akhir 2017 untuk segera mengejar mimpi. Dua puluh dua desember tepatnya, surat perpindahan universitas dikabulkan oleh pihak LPDP. Yang semula ingin ke Malaysia saja, ternyata sedikit membuang waktu karena harus menunggu pertengahan 2019. Akhirnya, dengan diskusi sebelum tidur dengan Anita, istri tercintaku, memutuskan bahwa sebaiknya berpindah ke Taiwan. Dengan banyak pertimbangan waktu dan kualitas. Tak bersantai-santai, langsung ingin mengurus VISA dan legalisir ijazah ke Kantor Dagang Taiwan di Jakarta. Hal pertama yang dilakukan adalah mengecek rekening tabungan, ternyata sungguh sangat menipis. Akhirnya aku bertanya pada Anita,"Uang mas hanya cukup untuk membuat VISA dan perangkatnya, maaf mas tiga bulan kedepan tidak bisa mencukupi kewajiban!" Dengan pertimbangan investasi, tentu Anita merelakannya. Keberangkata...